Cara Mengatasi Udang Vaname Terserang Vibrio

Cara Mengatasi Udang Vaname Terserang Vibrio

Vibriosis pada udang vaname (terutama Vibrio parahaemolyticus, V. harveyi, V. campbellii) bisa memicu kematian massal termasuk AHPND/EMS. Pada fase benur–juvenil, mortalitas bahkan dapat mendekati 100% bila tak ditangani tepat.

Artikel panduan ini merangkum tindakan cepat di tambak, opsi intervensi yang didukung riset (probiotik, imunostimulan, fag/bakteriofag), hal yang harus dihindari (antibiotik sembarangan), serta biosekuriti pencegahan.

Baca juga : Udang Vaname dan Udang Windu: Apa Bedanya?

1) Kenali Gejala & Konfirmasi Penyebab

Gejala umum vibriosis/AHPND: usus kosong, hepatopankreas pucat–menyusut, nafsu makan turun, berenang lemah/di tepi, molting tidak tuntas. Pastikan diagnosis dengan uji PCR/deteksi toksin AHPND jika tersedia, agar membedakan dari masalah lain (mis. parasit/virus).

Mengapa cepat penting? Vibrio berkembang pesat di air hangat, kaya bahan organik, dan dasar tambak “kotor”—sering bermula dari sedimen. Studi lapangan menunjukkan sedimen dasar menyumbang porsi besar sumber AHPND (≈39% sedimen kolam, 21% sedimen inlet).

2) Tindakan Cepat di Tambak

  1. Kurangi pakan 30–50% sementara untuk menekan limbah organik.

  2. Sifon dasar (khususnya dead spots) dan buang sludge harian; fokus area dekat inlet/aerator. Sedimen sering membawa patogen AHPND.

  3. Perbaiki aerasi (target DO >5 mg/L) dan sirkulasi; tambah kincir/air stone bila perlu.

  4. Stabilkan parameter (pH stabil, amonia–nitrit serendah mungkin), kelola fitoplankton agar tidak meledak/turun drastis—keseimbangan plankton membantu menekan Vibrio.

  5. Aplikasi probiotik (Bacillus/DFM) ke air & via pakan sesuai label; bukti meta-analisis: probiotik dapat meningkatkan survival signifikan pada vaname dan menurunkan beban Vibrio.

  6. Pantau harian: sampling usus/HP, hitung Vibrio bila ada fasilitas, catat mortalitas & nafsu makan.

3) Manajemen Air & Dasar Kolam yang “Anti-Vibrio”

  • Kendalikan bahan organik: disiplin sifon, settling zone, dan harvesting busa/foam.

  • Plankton seimbang: cegah dominasi/kolaps; manajemen plankton terbukti membantu menekan V. parahaemolyticus.

  • Make-up water terkontrol: saring, klorinasi/UV/ozon bila memungkinkan, dan resting sebelum masuk kolam produksi.

  • Bioaugmentasi rutin: Bacillus dalam air menekan amonia dan Vibrio—dua manfaat sekaligus.

  • Fokus sedimen: area dasar kolam adalah “reservoir” patogen; jadwalkan pembersihan berkala & pengelolaan sludge.

4) Intervensi Probiotik, Imunostimulan, dan Fag (Bacteriophage)

Probiotik (Bacillus, dll.)

  • Meta-analisis (100 studi) pada vaname: probiotik meningkatkan kelangsungan hidup secara bermakna dan memperkuat imunitas mukosa.

  • Campuran probiotik & aditif pakan tertentu menurunkan mortalitas pasca tantang V. parahaemolyticus (AHPND) dan menekan jumlah Vibrio di HP.

  • Bukti tambahan: beberapa strain Bacillus menghasilkan metabolit (mis. amicoumacin A) yang aktif terhadap Vibrio AHPND.

Imunostimulan & fitogenik

  • Sejumlah penelitian uji-pakan (beta-glukan, herbal komersial) menunjukkan potensi profilaksis terhadap V. parahaemolyticus; gunakan produk beregistrasi dan ikuti dosis label.

Fag/Bakteriofag

  • Bakteriofag adalah “virus baik” yang spesifik memangsa Vibrio; riset terbaru (2023–2025) menunjukkan penurunan beban Vibrio dan peningkatan kelangsungan hidup di budidaya, termasuk vaname.

  • Catatan praktik: gunakan koktail fag berspektrum target sesuai isolat lokal, perhatikan dosis & waktu aplikasi (mis. efektivitas tinggi terlihat dalam beberapa jam ko-inkubasi di riset laboratorium).

5) Antibiotik: Kapan (Hampir) Tidak Boleh & Mengapa

  • Hindari penggunaan empiris tanpa diagnosis dan pengawasan dokter hewan/penyuluh. Pemakaian tidak tepat mendorong resistensi, residu, dan gangguan mikrobioma kolam.

  • Literatur menyebut kombinasi oksolinat–oksitetrasiklin menunjukkan efek pada vaname yang ditantang Vibrio (uji terkontrol), namun ini bukan solusi budidaya rutin dan tunduk regulasi & periode henti panen. Fokus utama tetap biosekuriti + manajemen + alternatif non-antibiotik.

6) Protokol Pakan Saat Wabah

  • Turunkan feeding rate → amati response time 20–30 menit.

  • Gunakan pakan segar, simpan kering & tertutup.

  • Pertimbangkan top-dressing: probiotik/DFM pakan (sesuai label), vitamin C/E, imunostimulan yang didukung data internal farm.

7) Biosekuriti & Pencegahan Jangka Panjang

  • Benur bersertifikat bebas patogen; karantina jika perlu.

  • Filtrasi & desinfeksi air masuk; saring organisme liar.

  • Sanitasi peralatan (jaring, ember, sepatu) antar-petak.

  • Istirahat kolam & pengeringan dasar + kapur/solarization.

  • Catatan Indonesia: Praktik dasar biosekuriti & kebersihan dasar kolam dikaitkan dengan rendahnya kejadian EMS/AHPND di banyak lokasi Indonesia dibanding negara tetangga.

Kunci cara mengatasi udang vaname terserang vibrio adalah: (1) tindakan cepat (sifon, aerasi, stabilkan air, kurangi pakan), (2) intervensi berbasis bukti (probiotik, imunostimulan, fag), (3) hindari antibiotik tanpa panduan profesional, dan (4) biosekuriti + manajemen sedimen jangka panjang. Dengan kombinasi ini, banyak tambak mampu menekan mortalitas dan mempertahankan performa panen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *