Probiotic Aquaculture

Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Udang Vaname

Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Udang Vaname

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) adalah salah satu komoditas budidaya perairan paling penting secara global. Keberhasilan budidaya sangat bergantung pada banyak variabel biologis dan lingkungan — memahami faktor yang mempengaruhi pertumbuhan udang vaname membantu petani meningkatkan laju pertumbuhan, menurunkan mortalitas, dan memperbaiki efisiensi pakan (profitabilitas). Artikel ini menjelaskan variabel utama (dengan data dan sumber), mekanisme bagaimana masing-masing mempengaruhi pertumbuhan, dan rekomendasi praktis untuk optimasi.

Baca juga : Udang Vaname dan Udang Windu: Apa Bedanya?

Suhu

Suhu mempengaruhi laju metabolisme, konsumsi pakan, dan efisiensi energi. Untuk vanamei, banyak studi menunjukkan pertumbuhan optimal pada kisaran suhu hangat: penelitian klasik dan eksperimen lapang melaporkan bahwa laju pertumbuhan terbaik terjadi pada kisaran sekitar 24–32 °C — perubahan beberapa derajat saja dapat memengaruhi SGR (specific growth rate) secara signifikan. Oleh karena itu manajemen suhu (aerasi pada malam hari, peneduhan kolam, atau penggunaan sistem tertutup dengan kontrol suhu) penting terutama pada daerah yang mengalami fluktuasi suhu besar.

Targetkan 26–30 °C untuk siklus grow-out pada banyak daerah tropis; hindari penurunan mendadak suhu yang menyebabkan stres.

Salinitas

Vanamei adalah euryhaline (tahan pada rentang salinitas lebar), dengan kemampuan hidup dari sangat rendah sampai laut penuh. Beberapa kajian melaporkan toleransi ~0.5–45 ppt; namun pertumbuhan dan komposisi tubuh seringkali lebih baik pada salinitas menengah (mis. 10–30 ppt) tergantung strain dan tahap hidup. Pada usaha budidaya darat/air payau, adaptasi salinitas dan manajemen air (mixing, pengisian, pencegahan intrusi) tetap diperlukan karena perubahan salinitas yang cepat menimbulkan stres osmoregulasi dan menurunkan pertumbuhan.

Baca juga :  Ini Gejala Penyakit EMS pada Udang Vaname yang Harus Segera Diatasi

Bila menggunakan tambak payau/inland, stabilkan salinitas secara bertahap saat transisi PL → nursery → grow-out.

Oksigen terlarut (DO) & sirkulasi air

Dissolved oxygen (DO) memengaruhi makan, pencernaan, dan aktivitas. Kurangnya DO menyebabkan penurunan nafsu makan, stagnasi pertumbuhan, dan kematian. Studi juga menunjukkan bahwa praktik DO tinggi/supersaturasi dapat memengaruhi ekspresi gen dan performa — sehingga DO harus dipantau & dikendalikan (aerator, manajemen fitoplankton/biofloc, dan pengisian air). Secara statistik, faktor-faktor kualitas air utama (termasuk DO) menjelaskan proporsi besar variasi kualitas air di sistem budidaya.

Pertahankan DO >4 mg/L pada siang hari; hindari fluktuasi malam yang ekstrem (monitor pH/fitoplankton yang mempengaruhi DO).

Kepadatan tebar

Kepadatan mempengaruhi kompetisi untuk pakan, agresi, kualitas air, dan risiko penyakit. Penelitian modern menunjukkan hasil optimal bergantung sistem: nursery dapat menggunakan kepadatan tinggi (ribuan PL/m³) dengan manajemen intensif, sementara grow-out dalam sistem intensif/berteknologi bisa mencapai kepadatan tinggi juga tapi membutuhkan kontrol ketat (filtrasi, aerasi, biofloc). Studi lapang baru-baru ini menunjukkan perbedaan signifikan pada SGR dan survival antara kepadatan rendah dan tinggi — sehingga ada trade-off antara produktivitas per m² dan kesehatan/stabilitas sistem.

Untuk pemula, mulai dengan kepadatan moderat (mis. 100–300 ekor/m² di pond tradisional — sesuaikan menurut praktik lokal dan sistem) sampai manajemen air & penyakit benar-benar terkendali.

Nutrisi & manajemen pakan

Pakan adalah komponen biaya terbesar. Efisiensi pakan (FCR = feed in : weight gain) mencerminkan seberapa baik pakan dikonversi menjadi biomassa. Data lapangan menunjukkan FCR praktis untuk vanamei umumnya ~1.1–1.6 pada sistem yang dikelola baik; pada sistem kurang terkontrol FCR bisa jauh lebih tinggi (≥2.0). Faktor yang mempengaruhi FCR dan pertumbuhan termasuk kandungan protein & lipid pakan, ukuran pelet, frekuensi pemberian, dan praktik pemberian pakan (overfeed/underfeed berbahaya). Penerapan pakan fungsional (probiotik/prebiotik) dan frekuensi optimal (studi menunjukkan 6–8 kali/hari pada beberapa sistem intensif) dapat meningkatkan pertumbuhan dan FCR.

Baca juga :  Jenis Fitoplankton untuk Tambak Udang Vaname

Gunakan pakan berkualitas yang sesuai ukuran umur shrimp; pertimbangkan pemberian otomatis di sistem intensif untuk konsistensi.

Penyakit & patogen

Penyakit seperti AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease) dan WSSV (White Spot Syndrome Virus) dapat menyebabkan kehilangan pada tingkat tinggi dan/atau gangguan pertumbuhan (anoreksia, hepatopancreas rusak → penyerapan nutrisi terganggu). AHPND khususnya dilaporkan menyebabkan mortalitas hingga 90–100% pada populasi terinfeksi dalam kondisi tertentu — ini jelas menghentikan pertumbuhan dan panen. Pencegahan (biosecurity, sertifikasi PL, sanitasi pond, rotasi) lebih efektif daripada obat setelah wabah.

Hanya gunakan PL bersertifikat bebas AHPND/WSSV bila tersedia; jalankan protokol biosecurity ketat (karantina, desinfeksi peralatan, pembatasan kunjungan).

Lingkungan mikrobiota

Sistem seperti biofloc memodifikasi komunitas mikroba air dan pakan alami, berpotensi meningkatkan ketersediaan nutrisi serta imunitas shrimp. Penelitian menunjukkan biofloc dan suplemen fungsional dapat memperbaiki pertumbuhan dan ketahanan terhadap stres/penyakit bila dikelola dengan tepat. Namun, biofloc juga menuntut kontrol C:N dan aerasi yang baik agar tidak memburuk kualitas air.

Bila menerapkan biofloc, monitor amonia, nitrit, dan C:N ratio; pastikan aerasi memadai.

Genetika & breeder / strain selection

Varietas/strain berbeda menunjukkan variasi laju pertumbuhan, toleransi salinitas, dan ketahanan penyakit. Penggunaan benur/PL yang berasal dari program pemuliaan komersial berkualitas sekaligus diverifikasi dapat meningkatkan performa budidaya. Integrasi genetic improvement dengan manajemen lingkungan memberi hasil terbaik.

Pilih supplier PL terpercaya; pertimbangkan strain yang cocok dengan kondisi lokal (salinitas, suhu).

Indikator pertumbuhan kuantitatif

Beberapa metrik penting:

  • SGR (specific growth rate): % kenaikan berat per hari — dipakai untuk membandingkan perlakuan.

  • DWG (daily weight gain) dan TGC (thermal unit growth coefficient) untuk mengaitkan pertumbuhan dengan suhu.
    Data eksperimen menunjukkan SGR bervariasi bergantung kondisi (contoh SGR nursery bisa beberapa %/hari, dan DWG dapat berubah seiring fase grow-out). Monitoring berkala (sampling bobot) membantu mengevaluasi apakah faktor-faktor lingkungan perlu dikoreksi.

Baca juga :  Cara Mengatasi Udang Vaname Terserang Vibrio

Interaksi antar faktor

Satu faktor jarang bekerja sendiri: mis. kepadatan tinggi + DO rendah + pakan buruk = penurunan drastis pada growth & survival; atau stres lingkungan + patogen dapat mempercepat wabah. Oleh karena itu, pengendalian terpadu (kualitas air, pakan, biosecurity, pemantauan statistik growth) adalah kunci.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *