“Semi intensif” adalah sistem pembesaran yang mengandalkan pakan buatan namun tetap memanfaatkan produktivitas alami (fitoplankton) dengan aerasi mekanik (kincir/circulator). Di Indonesia, pedoman pemerintah menjelaskan semi intensif menggunakan padat tebar sedang, kedalaman ±80–100 cm, dan dukungan aerasi. Cocok untuk petambak yang ingin produktivitas lebih tinggi daripada ekstensif tanpa kompleksitas penuh intensif.
FAO menyebut semi intensif umumnya di kolam 1–5 ha dengan 10–30 PL/m²—angka praktis untuk menyeimbangkan biaya aerasi, pakan, dan risiko penyakit.
Baca juga : Kenali Udang Vaname sebagai Favorit Petani
2) Perencanaan Lahan & Desain Kolam
-
Tipe kolam: tanah berstruktur baik, elevasi memadai, akses air masuk/keluar terpisah (hindari resirkulasi limbah ke inlet).
-
Ukuran: 0,5–2 ha per petak (masih dalam spektrum semi intensif 1–5 ha), memudahkan manajemen serta panen.
-
Kedalaman operasional: 100–120 cm (80–100 cm minimum sesuai pedoman), sediakan parit tengah untuk kumpulkan sludge.
-
Infrastruktur pendukung: reservoir ±30% dari luas farm untuk pengendapan & klorinasi sumber air, kanal masuk/keluar terpisah, jaring saringan di pintu air.
-
Aerasi: kincir 1 HP/400–600 m² (rule-of-thumb), atur pola dorongan membentuk arus sirkular agar padatan terdorong ke tengah; circulator membantu homogenisasi DO & suhu—ingat, circulator tidak menghasilkan oksigen, ia mendistribusikannya.
3) Persiapan Kolam: Dari Pengeringan hingga “Green Water”
-
Kering & pembalikan tanah sampai retak halus, lalu kapur (dolomit/kaptan) sesuai kebutuhan pH tanah.
-
Pemberantasan hama (mis. dengan saponin/klorin sesuai dosis & regulasi), bilas, lalu isi air bertahap.
-
Pemupukan awal (organik/anorganik terukur) untuk tumbuhkan fitoplankton → warna hijau/zaitun stabil (transparansi Secchi ±30–40 cm).
-
Stabilisasi air 5–7 hari: capai pH 7,5–8,5, alkalinitas ≥70–80 mg/L CaCO₃, DO >5 mg/L.
4) Benur (PL) & Penebaran
-
Kualitas benur: PL8–PL12 SPF/SPT, uji stres salinitas & PCR patogen kunci (AHPND/EMS, WSSV).
-
Aklimatisasi: samakan suhu & salinitas bertahap (≤2–3 ppt/jam).
-
Padat tebar acuan semi intensif: 10–30 PL/m². Banyak studi ekonomi menyukai 20–24 PL/m² saat mortalitas rendah karena hasil & biaya seimbang.
-
Nursery opsional (7–15 hari): meningkatkan SR awal; FAO mencontohkan padat tebar nursery 50–150 fry/m³ (tergantung ukuran).
5) Manajemen Pakan yang Menguntungkan
-
Rasional pakan: semi intensif mengandalkan pakan buatan, tetapi tetap memanfaatkan pakan alami—optimalkan warna air & transparansi.
-
Feeding program: frekuensi 4–5×/hari awal budidaya, kurangi bertahap; gunakan tray untuk evaluasi sisa pakan.
-
Praktik kunci: penyimpanan pakan kering & sejuk, first-in-first-out, ukuran pellet sesuai bobot, puasa ½–1 hari/minggu setelah >70 HPH untuk bersihkan dasar & menurunkan beban organik.
-
KPI realistis: dengan manajemen baik, FCR ±1,17–1,54, SR ±58–65% pada uji densitas; di lapangan semi intensif terkelola baik umum mengejar SR 60–80%. Gunakan ini sebagai patokan evaluasi, bukan jaminan.
6) Kualitas Air: Batas Ideal & Rutinitas Harian
Pantau pagi & sore: pH, DO, suhu, salinitas, transparansi; mingguan: alkalinitas, TAN, nitrit, fosfat.
-
pH: 7,5–8,5, hindari fluktuasi harian >0,5. Stabilkan dengan alkalinitas.
-
Alkalinitas: ≥70–80 mg/L CaCO₃ (banyak praktisi menargetkan 80–150 mg/L).
-
DO: jagakan >5 mg/L (malam rawan turun).
-
Transparansi: sekitar 30–40 cm sebagai panduan praktis kestabilan fitoplankton.
-
Manajemen: tambah aerasi saat malam berawan/angin lemah, aplikasi kapur/bikarbonat untuk buffer, kurangi pakan saat TAN/nitrit naik, pisahkan inlet–outlet & gunakan reservoir.
7) Biosekuriti & Kesehatan
-
Saringan berlapis di inlet/outlet, desinfeksi peralatan, pembatasan akses.
-
Monitoring klinis mingguan: sampling bobot & kondisi hepatopankreas, cek kotoran/feses, uji cepat bila ada gejala.
-
Pengelolaan limbah/efluen: patuhi batas mutu umum—tujuan BMP adalah memastikan variabel effluent tetap pada rentang yang diterima lingkungan.
-
Rujukan BMP lokal: panduan WWF/mitra dan regulasi KKP untuk praktik yang lebih rinci & kontekstual Indonesia.
8) Sampling, Target Pertumbuhan, & Panen
-
Sampling 7–10 hari sekali; sesuaikan pakan berdasarkan ADG aktual & biomassa.
-
Kapan panen: saat ukuran & harga optimal (mis. 40–70 ekor/kg untuk pasar umum).
-
Panen parsial dapat dipertimbangkan untuk menjaga sisa biomassa di bawah kapasitas aerasi & kualitas air.
9) Estimasi Biaya & Produktivitas (Garis Besar)
-
Biaya utama: pakan (terbesar), benur, listrik aerasi, tenaga kerja, kapur/kimia, perbaikan.
-
Produktivitas wajar semi intensif: sangat bergantung pada padat tebar & SR; gunakan patokan densitas 20–24 PL/m² & SR 60–80% untuk menyusun proyeksi konservatif, lalu kalibrasi dengan hasil sampling Anda.
10) Troubleshooting
-
Air terlalu bening (Secchi >50 cm): tambah pupuk organik ringan/kurangi sirkulasi, evaluasi feeding.
-
pH siang >9,5: kurangi kepadatan plankton via pergantian air terkontrol; tambah aerasi siang untuk buang CO₂ berlebih.
-
Nitrit naik: kurangi pakan, tambah aerasi & buffer alkalinitas, perbaiki rasio C:N bila gunakan karbon tambahan.
-
Udang nafsu makan turun malam: tambah aerasi, cek DO & suhu pra-subuh.
Template SOP Harian
Pagi (05:00–07:00): ukur DO, suhu, pH; tambah aerasi bila DO <5 mg/L.
Siang (12:00–14:00): cek pH puncak; jika >8,8 dan cenderung naik, rencanakan water exchange.
Sore (16:00–18:00): transparansi, warna air, evaluasi tray; sesuaikan pakan.
Mingguan: alkalinitas, TAN, NO₂⁻/NO₃⁻, fosfat; siphon sludge; kalibrasi rencana pakan.
FAQ
Berapa padat tebar aman untuk pemula? Mulai 20 PL/m² agar manajemen lebih ringan, lalu naikkan bertahap setelah 1–2 siklus sukses.
Apakah perlu nursery? Tidak wajib, tapi membantu SR awal—rujukan 50–150 fry/m³ di nursery.
Target FCR? Upayakan 1,2–1,6 melalui kontrol pakan & kualitas air.